Jakarta, Rifan Financindo – Masyarakat Indonesia dengan pendidikan cukup tinggi masih rentan dengan informasi palsu. Hal tersebut ditemui dari hasil survei yang diselenggarakan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menunjukkan 54 persen responden yang terlibat tidak yakin saat dihadapkan konten hoax.

“Artinya walaupun mereka berpendidikan tinggi mereka ngga bisa langsung mengidentifikasi tahu itu informasi hoax,” ujar Teguh Prasetya, Head of Strategic Policy Mastel di Jakarta, Senin (13/2).

Survei yang dibuat Mastel melibatkan 1.116 responden dengan teknik random sampling. Sebanyak 46,50 persen dari responden berpendidikan minimal S1, disusul SMA/SMK 26 persen, dan S2 sebesar 14,7 persen.

Adapun mereka yang bisa mengenali karakter informasi hoax hanya 28 persen dari total responden. Bahkan 18 persen di antaranya sama sekali tak bisa mengukur kebenaran informasi yang ia terima.

Jumlah responden yang ragu-ragu saat dihadapkan hoax masih sangat bergantung dari sumber rujukan informasi utama mereka. Mayoritas masih sangat bergantung kepada mesin pencari dan media konvensional untuk memeriksa kebenaran informasi.

“Oleh sebab itu mereka butuh referral, pendapat orang lain, sampai mereka mengambil kesimpulan,” lanjut Teguh.

Sekitar 80 persen responden menggunakan mesin peramban untuk meneliti informasi yang mencurigakan, lalu 48,60 persen bertanya ke orang yang dianggap dipercaya, dan 44,3 persen mengecek ke media massa.

Meski responden Mastel cenderung kesulitan mengenali suatu informasi hoax, namun hanya 1 persen dari mereka yang mengaku meneruskan kabar sensasional. Mereka yang satu persen ini berasumsi apa yang mereka sebar sebagai informasi terpercaya dan perlu diketahui orang banyak.

Menurut Teguh, responden dari survei ini lebih dewasa dalam menyikapi berita heboh. Tercatat ada 83,20 persen yang mengecek informasi sensasional yang mereka terima.

Hanya saja, mayoritas responden Mastel mengaku tak banyak berbuat saat menemui konten hoax.

“Mereka jadi silent majority.”

Di sisi lain, satu persen penyebar hoax tadi cenderung membabi-buta melancarkan serangannya.

Ketua umum Mastel Kristiono menyebut survei ini sebagai titik awal keterlibatan Mastel dalam memberantas penyebaran hoax di Indonesia. Selain membuat survei, Kristiono juga sedang mempersiapkan aplikasi khusus untuk mengenali informasi hoax.

“Jadi kalau masyarakat ragu-ragu, nanti cek. Semua ada di aplikasi itu nanti,” pungkas Kristiono di tempat yang sama.

Survei Mastel dilakukan dari rentang 7-9 Februari 2017 dengan teknik random sampling yang disebar hanya secara online. Sampel terbanyak berasal dari kelompok usia 20-40 tahun sebesar 66,2 persen dan dari kalangan profesional sebanyak 49,3 persen.

RifanFinancindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s