Jakarta, Rifan Financindo Berjangka – Lembaga pemeringkat Internasional Standard and Poor’s (S&P) akhirnya memberikan status investment grade atau kelayakan investasi kepada Indonesia. Ini tidak lepas dari penguatan ekonomi dalam negeri di tengah ketidakpastian global.

Tapi bagaimana sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia?

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara menjelaskan Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi dengan cukup baik. Ekonomi tumbuh 5,02% pada 2016 saat banyak negara resesi, inflasi terjaga pada 3,02% dan neraca perdagangan yang mengarah kepada surplus.

Sisi lain yang tak juga penting adalah defisit transaksi berjalan pada kisaran 2% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), cadangan devisa sebesar US$ 123,2 miliar pada April 2017. Nilai tukar rupiah pun terpantau stabil pada level 13.300/US$.

“Kita buktikan ekonomi kita baik neraca pembayaran positif CAD dari PDB ekspansi terjaga dengan baik. Perbankannya sudah baik dan pemerintah lakukan deregulasi terlepas dari credit rating hasilnya, yang jelas dari ekonomi bisa prudent,” kata Mirza di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Proyeksi Ekonomi Indonesia ke Depan

Amerika Serikat (AS) akan mengurangi neraca pembayaran dalam waktu dekat, selain itu The Federal Reserve (The Fed) juga akan menaikkan suku bunga. Kedua aksi ini dinilai akan mempengaruhi pergerakan perekonomian Indonesia.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan bank sentral sedang menunggu informasi resmi dari The Fed terkait keputusan ini.

“Mereka menjanjikan akan berkomunikasi, jadi mereka tidak akan membuat negatif surprise, kita tunggu apa komunikasi dilakukan pada Juni, apakah ketika rapat The Fed, mudah-mudahan komunikasinya lancar,” papar Mirza.

Lihat juga: Ini Alasan S&P Hadiahkan RI Status Investment Grade | PT Rifan Financindo

Dia menceritakan, peningkatan suku bunga diprediksi terjadi Juni juga harus dicermati. Pasalnya, pengecilan balance sheet bank sentral AS tersebut tidak akan memperpanjang surat-surat berharga yang sudah jatuh tempo di sejumlah negara.

“Akan terjadi pengurangan money supply, nah itu akan mempengaruhi likuiditas di Amerika Serikat (AS),” ujarnya.

Di sisi lain berita politik dari Brazil yang membuat mata uang dan pasar sahamnya mengalami penurunan. Ini turut mempengaruhi.

Mirza menilai, pertumbuhan ekonomi nasional masih diproyeksikan 5% – 5,4% hingga akhir tahun.

“Sesuai pola nya, kuartal II akan lebih baik, bisa dilihat dari investasi yang sudah membaik, aliran modal ada peningkatan, ekspor impornya sudah membaik kontribusinya ke produk domestik bruto (PDB),” tegasnya.

Dia menceritakan aktivitas ekonomi nasional memang belum optimal kuartal I, ini sesuai pola tahunan. Kemudian kuartal II ekonomi membaik. “Apalagi di Jakarta sudah selesai Pilkada, ini ada pergerakan yang lebih baik,” ujarnya.

Perekonomian nasional kuartal I 2017 tumbuh 5,01% ditopang oleh pertumbuhan ekonomi di pulau Jawa yang mencapai 5,66% naik dibandingkan kuartal IV 2016 5,45%.

Kemudian pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang tercatat 4,92% naik dari kuartal IV tahun lalu 2,22%. Penopang pertumbuhan wilayah ini adalah perbaikan kinerja ekspor dan investasi.

RifanFinancindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s