Jakarta, Rifan Financindo – Kelangkaan pasokan garam melanda sejumlah daerah di Indonesia. Sebagai solusinya, pemerintah bakal mengimpor 75.000 ton garam dari Australia melalui PT Garam.

Pertanyaannya, cukupkah jumlah tersebut untuk mengatasi kelangkaan garam? Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk, mengatakan 75.000 ton itu hanya mampu untuk memenuhi konsumsi, belum termasuk kebutuhan industri

“75.000 ton itu sangat kecil, dan hanya untuk mengisi kebutuhan konsumsi langsung,” ujar Tony kepada detikFinance, Senin (31/7/2017).

Sedangkan untuk industri yang memakai garam sebagai bahan baku belum terpenuhi. Misalnya untuk pengasinan ikan, penyemakan kulit, tekstil, pakan ternak.

Menurut Tony impor garam yang ideal hingga akhir 2017 adalah 500.000-600.000 ton. Jumlah ini sudah bisa memenuhi kebutuhan konsumsi hingga industri.

“Ini sudah termasuk untuk konsumsi, dan industri penyemakan kulit dan aneka pangan,” kata Tony.

Baca juga: Pasokan Garam Langka, Apa Kata Susi? | PT Rifan Financindo

Dia menambahkan, masalah kelangkaan garam ini dipicu curah hujan yang tinggi di daerah penghasil garam, seperti Madura, Cirebon, Indramayu, Pati Rembang, Jepara, Pasuruan dan Gresik. Di sisi lain, impor garam telat dibuka sehingga pasokan langka, terutama ke sektor industri.

“Harusnya ada pengamanan dari pemerintah karena garam itu bahan baku bukan produk jadi. Masuk pun harus diolah dulu,” tutur Tony.

 

 

PT Rifan Financindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s